EkonomiBeritaInternasional

Indonesia Jadi Tujuan Investasi Terbesar China di Asia, Capai US$49,37 Miliar dalam Dua Dekade

×

Indonesia Jadi Tujuan Investasi Terbesar China di Asia, Capai US$49,37 Miliar dalam Dua Dekade

Sebarkan artikel ini
Indonesia serap US$49,37 miliar investasi China dalam dua dekade, menjadi tujuan terbesar di Asia, dengan hilirisasi nikel dan proyek baterai EV senilai US$5,9 miliar sebagai pendorong utama.

BarataNews.id, Jakarta — Indonesia menempati posisi teratas sebagai tujuan investasi China di Asia, dengan total nilai mencapai US$49,37 miliar sepanjang 2005–2025, berdasarkan data Visual Capitalist yang dikutip CNBC Indonesia Research.

Dalam dua dekade itu, perusahaan-perusahaan China telah menggelontorkan lebih dari US$1,5 triliun ke berbagai negara di dunia. Namun, dari seluruh kawasan Asia, tidak ada satu negara pun yang menyerap investasi China sebesar Indonesia.

Lonjakan investasi tidak terjadi secara linear. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, pada 2013 investasi China di Indonesia hanya US$297 juta dan menempatkan China di posisi ke-12 investor asing terbesar. Pada 2015, China naik ke posisi ke-9 dengan US$628 juta. Sebelum 2019, nilai investasinya hampir selalu di bawah US$1 miliar — namun sejak 2019, angka itu secara konsisten melampaui US$1 miliar setiap tahunnya.

Posisi Ketiga di 2025, Gabungan dengan Hong Kong Capai US$18,1 Miliar

Dalam konferensi pers Capaian Kinerja Investasi 2025 di Jakarta, Kamis 15 Januari 2026, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani merilis komposisi lima besar investor asing di Indonesia sepanjang 2025. Singapura memimpin dengan US$17,4 miliar, disusul Hong Kong US$10,6 miliar, China US$7,5 miliar, Malaysia US$4,5 miliar, dan Jepang US$3,1 miliar.

“Memang secara konsisten Singapura ini lebih dari 10 tahun terakhir selalu di nomor satu dengan nilai 17,4 miliar dollar AS atau sekitar 30,1 persen,” ujar Rosan.

Meski China berada di urutan ketiga, jika digabungkan dengan Hong Kong, nilai investasi keduanya mencapai US$18,1 miliar pada 2025 — melampaui Singapura. Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu mencatat, total investasi China di Indonesia dari 2020 hingga semester I/2025 telah mencapai US$35,3 miliar atau setara Rp578,8 triliun, dengan pertumbuhan 31% dalam enam tahun terakhir.

Salah satu pendorong lonjakan ini adalah pergeseran strategi perusahaan China yang mulai memindahkan basis produksi ke luar negeri untuk menghindari tekanan tarif Amerika Serikat, sekaligus memanfaatkan pasar domestik Indonesia.

Nikel dan Baterai EV Dominasi Aliran Modal

Berdasarkan data BKPM untuk periode 2019–September 2024, investasi China didominasi sektor industri logam dasar sebesar US$14,39 miliar atau 42% dari total. Disusul transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi US$7,98 miliar (23%); industri kimia dan farmasi US$3,18 miliar (9%); listrik, gas, dan air US$2,70 miliar (8%); serta kawasan industri, perumahan, dan perkantoran US$2,21 miliar (6%).

Secara geografis, 67% investasi China berada di luar Jawa. Sulawesi Tengah menjadi lokasi terbesar dengan US$12,54 miliar atau 37% dari total, diikuti Jawa Barat US$7,19 miliar (21%) dan Maluku Utara US$5,18 miliar (15%).

Di sektor nikel secara khusus, laporan Climate Energy Finance (CEF) mencatat investasi China di pertambangan, peleburan, dan pemurnian nikel Indonesia telah melampaui US$65 miliar sejak kebijakan hilirisasi diberlakukan — menyumbang lebih dari separuh total investasi global China di mineral kritis yang mencapai US$120 miliar sejak 2023.

Puncak komitmen investasi terbaru terwujud pada Juni 2025, ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat. Proyek senilai US$5,9 miliar itu dioperasikan PT Aneka Tambang (Antam) dan PT Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) — perusahaan patungan antara CATL, Brunp, dan Lygend asal China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *