BarataNews.id, Jakarta — SpaceX, perusahaan kedirgantaraan dan komunikasi satelit milik miliarder Elon Musk, berencana melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) yang menargetkan pengumpulan dana sekitar US$75 miliar atau setara Rp1.357 triliun. Penawaran ini berpotensi menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal global.
Perusahaan berniat menawarkan 555.555.555 saham dengan harga indikatif US$135 per saham. Dengan jumlah saham beredar sekitar 13 miliar, valuasi SpaceX diperkirakan mencapai US$1,765 triliun. Jika terealisasi, angka ini melampaui rekor IPO Saudi Aramco yang mengumpulkan US$25,6 miliar pada 2019.
Investor menilai pendekatan penetapan harga saham sebelum IPO berbeda dari praktik umum Wall Street. Seorang investor yang dikutip Reuters mengatakan, “Tidak ada yang normal dari IPO ini dalam hal apa pun. Tetapi sekali lagi, ini adalah IPO terbesar dalam sejarah jadi mungkin itu tidak mengejutkan.”
Secara kinerja, SpaceX mencatat pendapatan US$18,67 miliar pada 2025, naik 33 persen dibanding tahun sebelumnya, meski masih mencatat rugi bersih US$4,94 miliar. Tim Hatt dari GSMA Intelligence menilai rasio harga terhadap pendapatan sekitar 90 kali sangat tinggi, namun perusahaan ini tidak memiliki pembanding publik yang sebanding.
Sejak didirikan pada 2002, SpaceX telah menorehkan sejumlah pencapaian penting, termasuk menjadi perusahaan swasta pertama yang menambatkan pesawat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2012, dan membawa astronot ke ISS pada 2020. Februari lalu, SpaceX juga mengambil alih perusahaan kecerdasan buatan xAI, yang sebelumnya mengakuisisi platform X.
Para analis memprediksi konsolidasi bisnis Elon Musk akan berlanjut, termasuk kemungkinan integrasi SpaceX dengan Tesla, seiring perluasan fokusnya pada robotika, energi, dan transportasi otonom. IPO ini dipandang sebagai tonggak penting dalam strategi pengembangan bisnis Musk sekaligus menjadi catatan bersejarah di pasar modal global.












