BarataNews.id, Jakarta — Sentimen negatif terhadap aset-aset Indonesia kembali menguat setelah investor global menyoroti pelemahan tajam rupiah dan anjloknya pasar saham domestik sepanjang 2026. Di tengah tekanan tersebut, muncul istilah “Sell Indonesia” yang digunakan sejumlah pelaku pasar untuk menggambarkan menurunnya minat terhadap aset Indonesia.
Data pasar menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 36% sepanjang tahun ini dan menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia dari sekitar 90 indeks global yang dipantau Bloomberg. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah dan menjadi mata uang dengan performa terlemah di Asia.
Perubahan sentimen tersebut menandai pembalikan drastis dibanding beberapa tahun sebelumnya ketika Indonesia menjadi salah satu tujuan utama investasi di pasar negara berkembang. Kini, sebagian investor menilai risiko kebijakan dan ketidakpastian ekonomi menjadi faktor yang perlu dicermati lebih lanjut.
Investor Global Mulai Mengurangi Eksposur
Kekhawatiran investor tercermin dari pernyataan George Boubouras, Head of Research K2 Asset Management, yang mengaku telah menarik seluruh investasinya dari Indonesia sejak 2024.
“Perdagangan besar di Asia saat ini adalah ‘jual Indonesia’,” ujar Boubouras sebagaimana dikutip dari laporan Straits Times.
Ia menegaskan tidak lagi memiliki eksposur investasi di Indonesia setelah bertahun-tahun aktif berinvestasi di pasar domestik.
“Saya memiliki nol eksposur ke Indonesia. Saya tidak akan memberikan mereka kesempatan,” katanya.
Menurut laporan tersebut, sejumlah investor global menyoroti meningkatnya peran negara dalam perekonomian, termasuk berbagai program prioritas pemerintah dan kebijakan baru yang dinilai berpengaruh terhadap persepsi pasar.
Nama Sri Mulyani Kembali Menjadi Sorotan
Di kalangan investor internasional, hengkangnya Sri Mulyani Indrawati dari pemerintahan pada 2025 disebut sebagai salah satu titik penting yang mengubah cara pandang pasar terhadap Indonesia.
Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani dipandang sebagai figur yang menjaga disiplin fiskal dan konsistensi pengelolaan anggaran negara. Kebijakan tersebut dinilai berperan dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus membantu Indonesia memperoleh peringkat utang layak investasi dari lembaga pemeringkat internasional.
Setelah pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan, sebagian pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah komitmen terhadap stabilitas fiskal tetap dipertahankan dalam jangka panjang.
Tang Yuxuan, Asia Head of Rates and Foreign Exchange Strategy J.P. Morgan Private Bank, mengatakan ketidakpastian politik domestik merupakan risiko yang lazim diperhatikan investor ketika berinvestasi di negara berkembang.
“Ketidakpastian politik domestik adalah risiko khas pasar berkembang yang cenderung direspons oleh investor global dengan tetap berada di pinggir lapangan sampai prediktabilitas muncul kembali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya masih menyarankan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap pasar Indonesia saat ini.
Rupiah Jadi Cerminan Kekhawatiran Pasar
Tekanan investor paling terlihat pada pergerakan rupiah. Mata uang Garuda telah melemah sekitar 14% sejak Presiden Prabowo Subianto mulai menjabat pada Oktober 2024.
Pada 4 Juni 2026, rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS yang menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah. Di pasar derivatif, pelaku pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan pelemahan lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Data pasar opsi menunjukkan peluang sekitar 45% rupiah mencapai Rp19.000 per dolar AS pada akhir tahun ini. Sementara kemungkinan rupiah menyentuh Rp20.000 per dolar AS dalam satu tahun ke depan diperkirakan sekitar 27%.
Gary Tan, Portfolio Manager Allspring Global Investments, mengatakan kekhawatiran terhadap prospek rupiah menjadi salah satu alasan utama investor mengambil posisi negatif terhadap Indonesia.
“Pendorong inti di balik posisi short di Indonesia adalah prospek bearish untuk rupiah, di mana investor tetap khawatir tentang ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan, terutama di sisi fiskal,” ujarnya.
Tekanan Menjalar ke Pasar Obligasi
Aksi jual tidak hanya terjadi di pasar saham dan valuta asing. Investor asing juga tercatat mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia hingga sekitar Rp86 triliun sejak Agustus tahun lalu.
Penurunan tersebut setara dengan sekitar 9% dari total kepemilikan sebelumnya. Sepanjang 2026, obligasi pemerintah Indonesia juga mencatat kerugian lebih dari 8% bagi investor berbasis dolar AS, berbanding terbalik dengan instrumen utang negara berkembang lainnya yang masih membukukan keuntungan.
Pelaku pasar juga mencermati besarnya kepemilikan surat utang pemerintah oleh Bank Indonesia yang mencapai sekitar 27% dari total obligasi beredar.
Portfolio Manager GAMA Asset Management, Rajeev De Mello, menilai investor membutuhkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan bank sentral terhadap kepemilikan obligasi tersebut.
“Apa yang dimulai sebagai pembelian untuk meningkatkan likuiditas pasar obligasi mungkin telah menjadi lebih seperti jenis pelonggaran kuantitatif,” katanya.
Menurut De Mello, pasar menginginkan panduan yang lebih jelas mengenai kemungkinan perubahan porsi kepemilikan obligasi pemerintah oleh BI di masa mendatang.
Kekhawatiran terhadap Peringkat Investasi
Tekanan yang terjadi di berbagai instrumen keuangan turut menghidupkan kembali diskusi mengenai ketahanan profil kredit Indonesia.
Shamaila Khan, Head of Fixed Income Emerging Markets and Asia Pacific UBS Asset Management, mengingatkan bahwa status layak investasi yang diperoleh Indonesia melalui proses panjang perlu dijaga melalui konsistensi kebijakan.
“Peringkat tersebut sangat sulit didapatkan, tetapi sangat mudah untuk hilang,” ujarnya.
Khan mengatakan investor global pada dasarnya ingin melihat bahwa kebijakan yang selama ini mendukung stabilitas ekonomi tetap dipertahankan sehingga manfaat yang telah diperoleh Indonesia dari kredibilitas fiskalnya tidak tergerus.












