EkonomiBeritaCek FaktaNasional

Benarkah RI Menuju Krisis 1998, Ekonom Soroti Perbedaan Besarnya

×

Benarkah RI Menuju Krisis 1998, Ekonom Soroti Perbedaan Besarnya

Sebarkan artikel ini
Ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dari krisis 1998, didukung indikator makro dan perbankan yang kuat

BarataNews.id, Jakarta — Pelemahan rupiah dan gejolak pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kembali kekhawatiran sebagian masyarakat mengenai kemungkinan Indonesia menghadapi krisis ekonomi seperti 1998. Namun, ekonom menilai kondisi saat ini masih berbeda jauh dibandingkan periode krisis Asia yang mengguncang perekonomian nasional hampir tiga dekade lalu.

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya volatilitas pasar, sejumlah indikator ekonomi utama menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Kondisi tersebut dinilai menjadi pembeda utama dibandingkan situasi yang terjadi saat krisis 1998 ketika sektor perbankan mengalami kolaps, inflasi melonjak tajam, dan ekonomi terjerumus ke dalam kontraksi mendalam.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan perbandingan kondisi saat ini dengan krisis 1998 tidak sepenuhnya tepat karena karakter tantangan yang dihadapi berbeda.

“Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global,” ujar Josua dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).

Kondisi Saat Ini Dinilai Berbeda dari Krisis 1998

Menurut Josua, krisis 1998 ditandai oleh runtuhnya sektor perbankan, lonjakan inflasi, pelemahan ekstrem nilai tukar rupiah, serta kontraksi ekonomi yang dalam. Pada periode tersebut, rupiah anjlok dari sekitar Rp4.000 menjadi lebih dari Rp16.000 per dolar AS dalam waktu relatif singkat.

Situasi saat ini dinilai berbeda karena tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global dan pergerakan pasar keuangan internasional. Di sisi lain, berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki pemerintah dan otoritas moneter dianggap lebih siap untuk meredam gejolak.

Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Inflasi nasional masih berada pada level rendah, pertumbuhan ekonomi tetap positif, dan sektor perbankan dinilai memiliki ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan saat krisis Asia.

Data ekonomi terkini memperlihatkan inflasi Indonesia masih berada di kisaran 2,42 persen pada April 2026. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia juga masih berada pada level tinggi yang memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.

Sektor perbankan juga dinilai berada dalam kondisi sehat. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di kisaran 25,83 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat sekitar 2,17 persen.

Kondisi tersebut berbeda dengan 1998 ketika banyak bank menghadapi tekanan likuiditas dan permodalan yang berujung pada krisis sistem keuangan.

Tekanan Daya Beli Masih Dirasakan Sebagian Masyarakat

Meski demikian, Josua mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangan sehari-hari. Kenaikan harga pada sejumlah komoditas membuat masyarakat lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.

Namun, menurutnya, fenomena tersebut lebih mencerminkan perubahan pola konsumsi dibandingkan penurunan daya beli secara menyeluruh.

Konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk menjaga kelompok rentan, pemerintah juga terus menjalankan berbagai program perlindungan sosial guna mengurangi dampak tekanan ekonomi.

Josua juga menyoroti program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, efektivitas program tersebut tidak tepat jika diukur hanya berdasarkan hasil jangka pendek.

Ia menilai program-program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di daerah.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menciptakan basis pertumbuhan yang lebih kuat dalam jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Kepercayaan Publik Jadi Faktor Penting

Selain indikator ekonomi, Josua menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat, pelaku usaha, dan investor terhadap perekonomian nasional.

Menurutnya, optimisme yang dibangun berdasarkan data dan pemahaman yang baik akan membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko munculnya sentimen negatif yang berlebihan.

“Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *