BarataNews.id, Jakarta — Sejumlah perusahaan China yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan industri nikel Indonesia mulai menjajaki peluang investasi di luar negeri. Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku usaha terhadap sejumlah perubahan kebijakan sektor pertambangan dan komoditas di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan tersebut mempertimbangkan proyek baru di Afrika dan kawasan Pasifik, meski Indonesia masih menjadi pusat industri nikel global dengan pangsa produksi lebih dari 60 persen terhadap total produksi dunia pada 2025.
Perkembangan ini memunculkan sinyal bahwa investor mulai menyiapkan alternatif jangka panjang di luar Indonesia, seiring meningkatnya ketidakpastian regulasi yang dinilai berpotensi memengaruhi iklim investasi.
Investor China Cari Peluang Baru
Mengutip Reuters, Grup Tsingshan tengah mempertimbangkan pengembangan proyek industri bernilai miliaran dolar AS di Madagaskar yang mencakup pengolahan berbagai mineral, termasuk nikel.
Menteri Pertambangan Madagaskar Karl Andriamparany mengatakan konsep kawasan industri yang diajukan Tsingshan terinspirasi dari pengembangan kawasan industri Morowali dan Weda Bay di Indonesia.
Meski demikian, proyek tersebut masih berada pada tahap evaluasi dan belum memperoleh izin pertambangan. Tsingshan sebelumnya diketahui telah menandatangani nota kesepahaman dengan pemerintah Madagaskar pada Februari lalu.
Sementara itu, Lygend Resources juga mulai menjajaki peluang investasi di luar Indonesia. Menurut sumber industri, perusahaan tersebut tengah berdiskusi untuk mengakuisisi sebagian saham proyek nikel Kabanga di Tanzania dari Lifezone Metals.
Lygend juga disebut mengajukan penawaran kepada perusahaan tambang milik negara Kaledonia Baru, SMSP, untuk mengambil bagian dalam proyek nikel Koniambo yang saat ini tidak beroperasi.
Apabila terealisasi, proyek di Tanzania maupun Kaledonia Baru akan menjadi investasi nikel pertama Lygend di luar Indonesia.
Kebijakan Indonesia Jadi Sorotan
Investor China sebelumnya memainkan peran penting dalam transformasi industri nikel Indonesia setelah pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada 2020.
Data U.S. Geological Survey menunjukkan pangsa produksi nikel tambang Indonesia meningkat dari sekitar 30 persen pada 2020 menjadi lebih dari 60 persen pada 2025. Produksi berbiaya rendah yang didukung investasi China bahkan mendorong pasar nikel global mengalami surplus dalam beberapa tahun terakhir.
Namun situasi mulai berubah setelah pemerintah memperkenalkan sejumlah kebijakan baru yang dinilai menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha.
Selain rencana pengendalian ekspor sejumlah komoditas strategis, investor juga menghadapi pengetatan kuota penambangan bijih nikel, usulan kenaikan pajak, serta revisi harga patokan mineral.
Kekhawatiran tersebut mendorong Kamar Dagang China di Indonesia mengirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto yang memperingatkan potensi dampak terhadap investasi di masa mendatang.
“Ini jelas berdampak negatif bagi industri. Jika pemerintah menambah birokrasi dan mengendalikan harga jual komoditas, maka hal itu akan memengaruhi skala investasi,” ujar analis pertambangan senior Canaccord, Tim Hoff.
Investasi Mulai Melambat
Sejumlah indikator investasi juga menunjukkan perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.
Data menunjukkan realisasi investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia turun 6 persen pada 2025 setelah tumbuh 19 persen pada tahun sebelumnya.
Investasi sektor pertambangan tercatat mencapai puncaknya pada 2024, sementara investasi baru di sektor pengolahan logam dasar cenderung stagnan sejak saat itu.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah keunggulan yang sulit ditandingi negara lain, termasuk cadangan bijih nikel yang besar, infrastruktur yang relatif lebih berkembang, serta ekosistem industri pengolahan yang telah terbentuk.
Afrika Belum Mudah Gantikan Indonesia
Para analis menilai proyek-proyek baru yang dijajaki investor China masih menghadapi tantangan besar.
Madagaskar, misalnya, baru mencabut moratorium penerbitan izin tambang yang telah berlaku selama 16 tahun untuk sebagian besar mineral. Sementara operasi nikel-kobalt Ambatovy, satu-satunya tambang nikel utama di negara tersebut, selama ini menghadapi berbagai kendala operasional.
Di Tanzania, proyek Kabanga memang dikenal sebagai salah satu deposit nikel sulfida terbesar yang belum dikembangkan di dunia. Namun proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi awal hampir US$1 miliar dan memerlukan waktu sekitar enam tahun untuk mencapai target produksi tahunan sekitar 50.000 ton nikel.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai pusat industri nikel global. Namun meningkatnya ketidakpastian kebijakan mulai mendorong sejumlah investor besar menyiapkan opsi diversifikasi investasi di luar negeri sebagai langkah antisipasi jangka panjang.












