BarataNews.id, Jakarta — Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang penguatan pada paruh kedua 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Kondisi tersebut dipandang terus mendorong minat investor terhadap aset safe haven, meski pasar sempat mengalami volatilitas tinggi sepanjang tahun ini.
Laporan terbaru Metals Focus memproyeksikan harga emas rata-rata pada semester II 2026 dapat mencapai 4.920 dollar AS per ons troi. Proyeksi tersebut muncul setelah harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 5.595 dollar AS per ons troi pada Januari 2026 sebelum terkoreksi sekitar 20 persen.
Meski mengalami koreksi, lembaga riset logam mulia itu menilai tren penguatan emas belum berakhir. Harga rata-rata emas pada paruh kedua tahun ini bahkan diperkirakan meningkat sekitar 43 persen dibandingkan rata-rata semester pertama 2026.
Ketidakpastian Global Masih Mendominasi
Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menopang prospek emas sepanjang tahun ini. Konflik di Timur Tengah serta perkembangan hubungan Iran dengan negara-negara Barat masih menjadi perhatian investor global.
Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, investor umumnya mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Emas menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan dari perubahan sentimen tersebut.
World Gold Council (WGC) sebelumnya juga menilai risiko geopolitik, tekanan inflasi, dan pembelian emas oleh bank sentral masih akan menjadi faktor penting yang mendukung permintaan logam mulia sepanjang 2026.
Pandangan serupa muncul dari berbagai laporan pasar yang menilai momentum harga emas tetap terjaga meski perekonomian global menghadapi sejumlah tantangan.
Investor Makin Agresif Memburu Emas
Selain faktor geopolitik, perubahan perilaku investor turut memperkuat prospek pasar emas. Metals Focus memperkirakan investasi emas fisik akan melampaui permintaan perhiasan dan menjadi kategori permintaan terbesar secara global untuk pertama kalinya.
Tingginya harga emas membuat konsumsi perhiasan cenderung melemah. Sebaliknya, minat masyarakat dan investor terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai terus meningkat.
Lembaga tersebut memperkirakan permintaan investasi emas fisik akan naik 15 persen pada 2026 dan mencapai level tertinggi sejak 2013. China diperkirakan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan permintaan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan pergeseran fungsi emas yang semakin kuat sebagai aset perlindungan nilai kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Dolar AS dan The Fed Ikut Menentukan Arah Harga
Pergerakan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor penting dalam pembentukan harga emas.
Pada awal Juni 2026, harga emas kembali menguat lebih dari 1 persen setelah dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun. Harga emas spot sempat bergerak di sekitar 4.505 dollar AS per ons troi, sementara kontrak berjangka emas AS berada di kisaran 4.533 dollar AS per ons troi.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menilai pelemahan dolar AS menjadi salah satu pemicu utama penguatan emas saat ini.
“Harga emas tampaknya bereaksi terhadap melemahnya dollar,” kata Melek.
Selain itu, pasar juga mencermati kemungkinan Federal Reserve mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada paruh kedua tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas karena mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Bank Sentral dan Permintaan Tetap Menopang
Pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi salah satu fondasi utama pasar logam mulia. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank sentral menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan perlindungan terhadap risiko nilai tukar.
Meski Metals Focus memperkirakan pembelian bersih bank sentral akan menurun pada 2026, tren tersebut dinilai belum cukup besar untuk mengubah prospek permintaan emas dalam jangka panjang.
Dari sisi pasokan, produksi tambang emas global diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3.907 ton pada 2026, naik 2,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun kenaikan produksi tersebut belum diperkirakan mampu menekan harga secara signifikan.
Salah satu penyebabnya adalah biaya produksi yang terus meningkat. Global all-in sustaining cost industri tambang emas tercatat mencapai 1.552 dollar AS per ons troi, naik 12 persen akibat tekanan inflasi dan meningkatnya biaya operasional.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, peningkatan minat investasi, dukungan pembelian bank sentral, serta potensi perubahan arah suku bunga global, pasar masih melihat peluang kenaikan harga emas hingga akhir 2026 meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.










