InternasionalBeritaPolitik

Xi Jinping Siapkan China Lawan AS lewat AI, Militer, dan Teknologi Strategis

×

Xi Jinping Siapkan China Lawan AS lewat AI, Militer, dan Teknologi Strategis

Sebarkan artikel ini
Xi Jinping memaparkan rencana lima tahun China di rapat parlemen nasional Beijing, mencakup AI, militer, dan kenaikan anggaran pertahanan 7 persen menjadi Rp 4.710 triliun.

BarataNews.id, Jakarta — Xi Jinping menyusun rencana jangka panjang untuk menghadapi rivalitas Amerika Serikat, mencakup pengalihan sumber daya besar-besaran ke kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan sejumlah teknologi strategis, sekaligus memperluas kekuatan militer China.

Rincian rencana ambisius untuk lima tahun ke depan itu dipaparkan dalam rapat parlemen nasional di Beijing, sebagaimana dilaporkan New York Times pada Rabu (4/3/2026). Rencana ini mencerminkan keyakinan Xi bahwa persaingan dengan AS pada akhirnya akan ditentukan oleh inovasi teknologi — yang mendorong kekuatan ekonomi, militer, dan budaya sekaligus.

“Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis,” demikian bunyi dokumen rencana tersebut sebagaimana dilaporkan New York Times.

China memperluas cakupan pengembangannya ke bio-manufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer, kecerdasan terwujud atau embodied intelligence, serta jaringan seluler 6G. Menurut Kyle Chan dari Brookings Institution, pemerintah China juga meyakini mereka bisa melampaui AS di bidang AI, robotika, komputasi kuantum, dan 6G.

Xi juga akan memperkuat keunggulan China dalam logam tanah jarang. Ekspor komoditas itu sempat dibatasi Beijing sebagai respons atas tarif AS, namun langkah tersebut urung dilakukan setelah kedua pihak menghentikan aksi balasan masing-masing.

Pemblokiran Teknologi AS

Rentetan pemblokiran teknologi dari AS menjadi titik balik yang mendorong urgensi strategi ini. Pada 2023, pemerintahan Presiden Joe Biden membatasi Nvidia menjual chip canggihnya ke China, termasuk GPU H200 yang digunakan untuk pengembangan AI, dengan alasan keamanan nasional.

Pada 2025, Trump mencabut larangan tersebut dan mengizinkan Nvidia kembali menjual chip AI canggihnya ke China. Namun, Komisi Komunikasi Federal AS atau FCC kemudian melarang router terbaru buatan asing mulai Januari 2026 — langkah yang oleh banyak analis diduga menyasar perangkat keras asal China.

Huawei dan ZTE masuk ke daftar hitam atau entity list AS, yang melarang keduanya menjual produk maupun mendapatkan komponen dari perusahaan asal AS. Huawei masih diblokir hingga kini, termasuk di lini smartphone — seluruh perangkat Huawei, termasuk yang dijual di Indonesia, tidak menggunakan Android buatan Google. Huawei membangun sistem operasinya sendiri, HarmonyOS.

Gerard DiPippo, analis senior dan Associate Director RAND China Research Center, menilai strategi Xi lahir dari keyakinan mendalam soal sikap Washington.

“Para pemimpin China berpandangan bahwa Washington akan terus berupaya membatasi perkembangan teknologi China,” kata DiPippo.

Xi mencoba memperkuat strategi agar ekonomi dan militer China tidak rentan terhadap pemutusan semikonduktor canggih dan teknologi penting lain dari Barat.

Alarm dari Venezuela dan Iran

Tindakan militer AS turut mempercepat kesiagaan Beijing. Serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu, serta intervensi AS di Venezuela yang berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro, disebut menjadi alarm bagi para pemimpin China.

Daniel R. Russel, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, mengomentari dampak tindakan tersebut terhadap postur Beijing.

“Trump mungkin mengira ia sedang menunjukkan kekuatan militer untuk mengintimidasi Beijing. Namun, tindakannya di Venezuela dan Iran, justru kemungkinan besar akan mendorong Beijing memperkuat kemampuan untuk melawan AS, dan mempererat hubungan dengan Rusia,” kata Russel.

Anggaran Militer Naik 7 Persen

Xi berkomitmen meningkatkan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat atau TKR. China menaikkan anggaran militer sebesar 7 persen tahun ini dibanding tahun sebelumnya, menjadi sekitar 277 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.710 triliun.

Xi menekankan bahwa kemenangan jangka panjang bukan soal besarnya anggaran, melainkan kemampuan China mendominasi industri masa depan. Rencana ini menargetkan terobosan di bidang pengembangan obat-obatan, penambangan laut dalam, dan riset energi fusi.

Meski Xi menetapkan visi secara nasional, implementasinya biasanya dilakukan di tingkat daerah. Zongyuan Zoe Liu dari Council on Foreign Relations memperingatkan risiko dari pola tersebut.

“Jika kebijakan industri dijalankan dengan koordinasi yang minim di tingkat lokal, kelebihan kapasitas akan terus terjadi,” kata Liu.

“Ini berarti produsen China akan terus mencari pembeli di seluruh dunia, dengan taktik kombinasi ekspor dan pemindahan kapasitas produksi ke luar negeri,” imbuh Liu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *