BarataNews.id, Jakarta — Harga emas merosot hingga 15% sepanjang Maret 2026, justru ketika ketegangan geopolitik global memanas — sebuah anomali yang membuat analis komoditas HSBC Asset Management menyimpulkan bahwa emas kini bergerak layaknya aset berisiko.
Penilaian itu disampaikan para analis HSBC Asset Management kepada Kitco News, Minggu (5/4/2026). Pandangan konvensional sebelumnya berasumsi bahwa ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi secara alami akan mendorong harga emas naik — namun Maret 2026 membuktikan sebaliknya.
“Pergerakan harga emas sejak konflik di Iran pecah telah menentang ekspektasi. Kepemilikan emas telah bergeser ke arah pembeli ritel dan pembeli dengan leverage lainnya, banyak di antaranya terpaksa melikuidasi kepemilikan mereka pada periode tekanan pasar,” ungkap analis komoditas HSBC Asset Management.
Tekanan itu juga tercermin dalam data harga. Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), harga emas spot ditutup anjlok 1,72% ke level US$ 4.676,28 per troy ons. Kontrak berjangka emas AS ambles 2,29% menjadi US$ 4.702,7 per troy ons.
Dua Faktor Penekan Harga
Para analis HSBC merinci dua faktor utama yang menekan harga emas secara bersamaan: penguatan dolar AS dan kenaikan suku bunga agresif.
“Dolar AS yang menguat tentu saja menjadi hambatan, menghalangi pembeli non-AS, sementara penyesuaian suku bunga yang agresif telah meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil,” kata para analis HSBC.
Meski menilai emas kini berperilaku sebagai aset berisiko, para analis HSBC tetap membuka ruang untuk prospek jangka panjangnya, terutama di tengah tren de-dolarisasi global.
“Namun, emas mampu bertahan menghadapi lonjakan serupa pada dolar AS dan suku bunga sepanjang tahun 2022, melemahkan tesis tradisional ini. Masih ada prospek investasi jangka panjang yang layak untuk emas, terutama di tengah tren de-dolarisasi global yang sedang berlangsung,” ungkap para analis HSBC.












