BarataNews.id, Teheran — Pasukan pertahanan udara Iran berhasil menyerang jet tempur F-35 AS dan mengintersepsi sekitar 180 drone dalam konflik terbaru — dua klaim yang disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf sebagai bukti bahwa Iran mampu mengalahkan kekuatan militer yang jauh lebih besar melalui strategi perang asimetris.
Qalibaf menyampaikan klaim itu dalam wawancara televisi Sabtu malam, dikutip Press TV. Ia mengakui kesenjangan kekuatan material yang nyata antara Iran dan AS. “Kita tidak lebih kuat dari Amerika Serikat dalam kekuatan militer. Jelas bahwa mereka memiliki lebih banyak uang, peralatan, dan sumber daya, dan karena mereka telah melakukan begitu banyak agresi di seluruh dunia, pengalaman mereka juga lebih besar daripada kita,” kata Qalibaf, dikutip Press TV.
Namun ia menekankan bahwa keunggulan material tidak menjamin kemenangan. “Kami berperang secara asimetris sedemikian rupa sehingga kami berhasil memukul mundur musuh,” katanya.
Insiden F-35 dan Pertahanan Udara
Qalibaf menyebut penyerangan terhadap jet tempur F-35 AS sebagai salah satu tonggak kemajuan teknis Iran, sekaligus sinyal pencegahan yang disengaja. “Menyerang F-35 bukanlah kebetulan; ini adalah operasi yang melibatkan berbagai dimensi teknis dan desain,” kata Qalibaf.
Ia menjelaskan makna strategis dari insiden itu. “Rudal yang meledak di dekat F-35 membuat musuh memahami kemampuan apa yang kita miliki dan ke arah mana kita bergerak,” tambah Qalibaf.
Ketua parlemen juga menyoroti kemajuan signifikan sistem pertahanan udara Iran dibandingkan konflik sebelumnya — khususnya setelah perang 12 hari pada Juni tahun lalu. Kemampuan mengintersepsi sekitar 180 drone dalam perang terbaru, menurutnya, tidak ada selama konflik sebelumnya.
Struktur Militer dan Kecepatan Respons
Qalibaf membandingkan kecepatan respons militer Iran antara perang Juni tahun lalu dan konflik terbaru yang dimulai akhir Februari. “Dalam perang pertama, kami mengalami keterlambatan 14 hingga 15 jam dalam merespons dan menyerang. Tetapi dalam perang ini, meskipun panglima tertinggi, kepala staf umum, dan komandan IRGC gugur, yang dapat menyebabkan gangguan, kami melihat bahwa reaksi terjadi dalam waktu sesingkat mungkin,” katanya.
Qalibaf mengaitkan kecepatan itu dengan apa yang ia sebut sebagai “struktur yang kuat” — warisan Imam Khomeini dan Ayatollah Khamenei yang gugur, yang menurutnya membangun revolusi tidak bergantung pada individu tetapi pada institusi. Ketika para pemimpin senior gugur, rakyat Iran sendiri yang bangkit mengisi kekosongan itu.
Gencatan Senjata dan Posisi Iran dalam Negosiasi
Qalibaf menegaskan Iran menerima gencatan senjata karena AS menerima tuntutan Iran, bukan sebaliknya. Ia memperingatkan bahwa negosiasi yang berlangsung tidak berarti Iran menurunkan kesiapan militernya. “Karena kita tidak mempercayai musuh. Bahkan saat ini, saat kita duduk di sini, perang bisa pecah. Angkatan bersenjata sepenuhnya siap di lapangan,” kata Qalibaf.
Ia mengecam pemerintahan Trump yang dinilai lebih mengutamakan Israel daripada kepentingan Amerika sendiri. “Pemerintah AS mengklaim bahwa ‘Amerika’ penting bagi mereka, tetapi dalam praktiknya, mereka telah menunjukkan bahwa Israel lebih diutamakan bagi mereka, karena mereka membuat keputusan berdasarkan informasi palsu dari Israel,” ujarnya.
Qalibaf menegaskan Iran tidak akan menyerah dalam jalur diplomatik. Ia menyebut tidak ada perbedaan baginya antara medan perang dan meja perundingan, dan menyatakan siap mengorbankan nyawanya untuk mengamankan hak-hak rakyat Iran.












