BarataNews.id, Jakarta — Sulit menentukan siapa pemenang perang AS-Iran karena keduanya memiliki tujuan dan strategi kemenangan yang berbeda. Demikian penilaian Daniel Byman, Direktur Program Peperangan, Ancaman Tak Teratur dan Terorisme Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS).
Byman menegaskan perang tidak hanya ditentukan dari metrik medan perang, dan menyoroti Iran berhasil membawa kerugian strategis bagi AS.
“Strategi Iran adalah untuk bertahan, menimbulkan kerugian, dan menggeser pusat gravitasi konflik ke luar, dan strategi ini mencapai keberhasilan yang berarti,” kata Byman dalam analisisnya di situs CSIS, Rabu (8/4).
“Dengan mendestabilisasi pasar energi global, memperketat aliansi AS, dan mengungkap keterbatasan kekuatan koersif Amerika, Teheran telah memastikan bahwa bahkan kampanye yang sukses secara taktis pun membawa kerugian strategis yang signifikan bagi Washington,” imbuh Byman.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran diumumkan Selasa (7/4), mencakup sekutu-sekutu kedua pihak termasuk Lebanon tanpa rincian lebih lanjut. Namun belum genap 24 jam, Pasukan Zionis menggempur Lebanon habis-habisan.
Iran menyebut AS melanggar gencatan dengan tiga alasan: menggempur Lebanon, meluncurkan rudal ke wilayah udara Iran, dan menolak hak pengayaan uranium Iran.
Trump menegaskan sikapnya menyusul ketegangan yang kembali memanas, melalui unggahan di Truth Social, Kamis (9/4).
“Semua Kapal, Pesawat, dan Personel Militer AS, beserta Amunisi, Persenjataan, dan segala sesuatu yang sesuai dan diperlukan untuk penuntutan dan penghancuran mematikan terhadap Musuh yang sudah sangat melemah, akan tetap berada di dan sekitar Iran, sampai KESEPAKATAN SEBENARNYA yang telah disepakati dipatuhi sepenuhnya,” ungkap Trump di Truth Social, Kamis (9/4).
Trump melanjutkan pernyataannya dengan ancaman eskalasi jika Iran gagal mematuhi kesepakatan.
“Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka ‘Penembakan Dimulai,’ lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” lanjutnya.
Kerugian Strategis AS
Serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap sekutu Washington di Teluk telah merusak aset militer, situs industri dan energi, serta citra mereka. AS mengalami kerugian sekitar US$1,4 miliar (sekitar Rp23 triliun) hingga US$2,9 miliar (sekitar Rp49 triliun) selama tiga pekan pertama perang.
Elaine McCusker, mantan pejabat anggaran Kementerian Pertahanan AS yang kini bekerja di American Enterprise Institute, menyebut kerugian itu berasal dari aset militer yang hancur atau rusak akibat perlawanan Iran.
IRGC juga menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari balasan, memicu kenaikan harga minyak dan gas. AS menjadi negara dengan harga gas tertinggi di dunia sejak 2022.
Byman mengomentari dampak penutupan Selat Hormuz tersebut.
“Akan jadi masalah politik bagi pemerintahan Trump serta risiko ekonomi bagi Amerika Serikat,” ujar Byman.
Di banyak negara, Washington juga kemungkinan disalahkan atas situasi ekonomi yang sulit, meningkatkan sentimen anti-AS. Byman turut menyoroti Trump yang memulai perang tanpa berkonsultasi dengan sekutu dan malah mencela mereka yang tidak membantu.
Tujuan Trump yang Belum Tercapai
Byman mengevaluasi empat tujuan awal Trump: menghancurkan program nuklir Iran, mendegradasi kemampuan rudal balistik, menghentikan dukungan Teheran ke proksinya termasuk Hizbullah, dan mengganti rezim Iran.
“Dampak serangan-serangan ini nyata, tetapi masih jauh dari mencapai tujuan AS yang lebih ambisius,” kata Byman.
Soal pergantian rezim: meski Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi yang dimulai 28 Februari, Majelis Ahli Iran memilih putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus melalui pemungutan suara sesuai konstitusi. Mojtaba dikenal keras terhadap AS dan Israel, dan dalam pernyataan pertamanya ia mengecam kedua negara serta menyerukan pembalasan masif.
“Perubahan rezim, tentu saja, belum terjadi. Mereka tetap memegang kendali kekuasaan,” lanjut Byman.
AS dan Israel memang telah membombardir peluncur rudal dan lokasi produksi senjata Iran, dan Washington mengeklaim berhasil menenggelamkan 90 kapal Angkatan Laut Iran. Namun Byman menilai klaim kemunduran Iran versi Trump belum sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.












