BarataNews.id, Teheran — Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan dunia tengah menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keamanan energi global, seiring Selat Hormuz yang masih tertutup akibat blokade laut antara Amerika Serikat dan Iran.
“Hingga hari ini, kita kehilangan 13 juta barel minyak per hari … dan ada gangguan besar pada komoditas penting,” kata Birol dalam pernyataannya, Kamis (23/4/2026).
Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz setiap hari — menjadikannya salah satu jalur energi terpenting di dunia. Penutupan jalur ini berdampak langsung pada pasar energi global.
Berdasarkan data Anadolu Agency, harga minyak mentah Brent internasional naik 0,63 persen menjadi US$105,73 per barel pada pukul 0545 GMT, Jumat (24/4/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut naik 0,32 persen menjadi US$96,17 per barel pada waktu yang sama.
Blokade Laut Gantikan Pertempuran Langsung
Kenaikan harga terjadi meski Presiden AS Donald Trump mengumumkan perkembangan diplomatik positif di jalur konflik lain. Trump menyatakan Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata setelah pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat senior AS, Kamis (23/4/2026).
“Pertemuan berjalan sangat baik!” tulis Trump di Truth Social.
Gencatan senjata Israel-Lebanon, yang awalnya ditetapkan berlangsung selama 10 hari, diharapkan memberi lebih banyak waktu untuk pembicaraan diplomatik. Washington juga berjanji mendukung upaya memperkuat pertahanan Lebanon terhadap Hizbullah.
Namun, gencatan senjata itu tidak memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz. Konflik AS-Iran telah bergeser ke blokade laut, dengan kedua pihak saling menyita kapal masing-masing sambil berupaya mendapatkan pengaruh ekonomi untuk mencapai penyelesaian yang lebih komprehensif.
Birol sebelumnya sudah memperingatkan bahwa perang Iran dan penutupan Selat Hormuz yang terus berlangsung berpotensi memicu apa yang ia sebut sebagai “krisis energi terbesar yang pernah kita hadapi.” Ia mendesak pemerintah di seluruh dunia memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan sumber energi alternatif.
Kekhawatiran pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak, yang terus bertahan meski ada perkembangan diplomatik di front Israel-Lebanon.












