InternasionalBeritaCek FaktaPolitik

Balikatan 2026 Dimulai: 17.000 Personel 7 Negara, Jepang Kirim Pasukan Tempur ke Filipina Pertama Kali sejak PD II

×

Balikatan 2026 Dimulai: 17.000 Personel 7 Negara, Jepang Kirim Pasukan Tempur ke Filipina Pertama Kali sejak PD II

Sebarkan artikel ini
Jepang mengerahkan 1.400 pasukan tempur dan rudal Type 88 ke Filipina untuk pertama kali sejak PD II, dalam Balikatan 2026 yang melibatkan 17.000 personel dari 7 negara selama 19 hari.

BarataNews.id, Manila — Amerika Serikat dan Filipina memulai iterasi ke-41 latihan militer tahunan “Balikatan” pada Senin, 20 April 2026 — edisi paling ekspansif dalam sejarah latihan yang namanya berarti “bahu-membahu” dalam bahasa Tagalog itu. Latihan berlangsung hingga 8 Mei 2026, mencakup seluruh kepulauan Filipina selama 19 hari.

Lebih dari 17.000 personel dari tujuh negara ambil bagian, dengan sekitar 10.000 di antaranya adalah pasukan AS. Tujuh negara peserta adalah AS, Filipina, Jepang, Australia, Kanada, Prancis, dan Selandia Baru. Tujuh belas negara lain hadir sebagai pengamat internasional. Balikatan 2026 juga bertepatan dengan peringatan 75 tahun Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Filipina yang ditandatangani pada 1951.

Upacara pembukaan digelar di Camp Aguinaldo, Quezon City. Letnan Jenderal Korps Marinir AS Christian Wortman menyampaikan pernyataan dalam upacara tersebut. “Terlepas dari tantangan di belahan dunia lain, fokus AS pada Indo-Pasifik dan komitmen teguh kami terhadap Filipina tetap tak tergoyahkan,” kata Wortman, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

Cakupan latihan meliputi domain darat, laut, udara, siber, dan antariksa. Materi yang dilatih antara lain operasi maritim, pertahanan udara dan rudal terpadu, latihan tembak-menembak langsung, operasi amfibi, pertahanan siber, respons bencana, dan operasi evakuasi non-kombatan.

Jepang: Pasukan Tempur Pertama di Filipina sejak PD II

Kehadiran Jepang menjadi sorotan utama Balikatan tahun ini. Tokyo mengerahkan sekitar 1.400 personel dari Pasukan Bela Diri Darat, Laut, dan Udara — menjadikan Jepang kontingen terbesar ketiga setelah AS dan Filipina. Ini adalah pertama kalinya Jepang mengirim pasukan tempur ke tanah Filipina sejak Perang Dunia II, dan pertama kali di bawah Reciprocal Access Agreement (RAA) yang mulai berlaku September 2025.

Jepang menurunkan kapal helicopter carrier JS Ise (DDH-182), kapal pendarat JS Shimokita, destroyer JS Ikazuchi, pesawat angkut C-130H, dan pesawat amfibi US-2. Dalam latihan tembak langsung di Paoay, Ilocos Norte pada 6 Mei, pasukan Bela Diri Jepang akan menembakkan rudal permukaan-ke-kapal Type 88 untuk menenggelamkan kapal target — pertama kali senjata itu digunakan dalam Balikatan.

Type 88 memiliki jangkauan operasional sekitar 100 kilometer. Radar Jepang yang sebelumnya diserahkan ke Filipina juga akan digunakan untuk mendukung operasi pertahanan udara dan maritim.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dijadwalkan mengamati langsung fase maritime strike. Sebelum tahun ini, keterlibatan Jepang dalam Balikatan hanya terbatas pada pengamatan dan kegiatan bantuan kemanusiaan.

Jadwal dan Konteks Geopolitik

Jadwal acara utama mencakup latihan maritim multinasional di Luzon Utara pada 23 April — 1 Mei, latihan pertahanan udara dan rudal terpadu di Subic, Zambales pada 26—29 April, dan maritime strike activity di Paoay, Ilocos Norte pada 6 Mei.

Kapal perang dari AS, Filipina, Jepang, dan Kanada akan berlatih bersama di pesisir barat Filipina yang menghadap Laut China Selatan, mencakup latihan anti-kapal selam, tembakan artileri, dan pencarian-penyelamatan.

Balikatan 2026 digelar sehari setelah China mengirimkan sekelompok kapal perang untuk berlatih di Samudra Pasifik Barat. Latihan berlangsung di tengah perang AS-Israel melawan Iran di Timur Tengah yang mendorong krisis energi global.

Filipina, yang sangat bergantung pada impor minyak Timur Tengah, menetapkan status darurat energi nasional selama setahun akibat lonjakan harga BBM.

Kolonel Dennis Hernandez, juru bicara militer Filipina untuk latihan ini, menyatakan dampak krisis energi terhadap pelaksanaan Balikatan minimal karena seluruh sumber daya sudah direncanakan jauh sebelum krisis meletus.

Prancis mengurangi keterlibatannya setelah kapal Jeanne d’Arc dialihkan ke Eropa. Duta Besar Prancis untuk Filipina Marie Fontanel menjelaskan perubahan itu dalam konferensi pers pada 13 April 2026 — kapal diminta tetap di dekat Eropa mengingat situasi Timur Tengah yang berkembang.

AS saat ini memiliki akses ke 9 fasilitas militer di Filipina berdasarkan Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA). Latihan Balikatan sendiri lahir dari Visiting Forces Agreement dan telah menjadi tulang punggung hubungan militer AS-Filipina sejak semua pangkalan AS di Filipina ditutup pasca Perang Dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *