BarataNews.id, Praia — Jika selama ini para ahli meyakini hantavirus hanya berpindah dari hewan pengerat ke manusia, wabah di kapal pesiar MV Hondius kini memaksa mereka memeriksa ulang keyakinan itu.
Dua kemungkinan penyebab tengah diselidiki. Skenario pertama tergolong konvensional: kontaminasi dari kotoran, air liur, atau urine tikus yang bersarang di kapal. Skenario kedua jauh lebih mengganggu ketenangan komunitas medis global: penularan antarmanusia melalui varian Andes.
Scott Miscovich, dokter keluarga yang menjabat Presiden & CEO Premier Medical Group, menyebut dua jalur itu dalam laporan media. Skenario pertama mungkin terdengar biasa bagi kapal yang kerap berlabuh di berbagai dermaga. Tikus bisa menyusup lewat kontainer makanan, perlengkapan dapur, atau kabel dari daratan. Area kargo dan ruang mesin menjadi sarang favorit mereka.
Virus Andes, yang endemik di Patagonia — wilayah ujung selatan Amerika yang mencakup Argentina dan Chili — dikenal sebagai satu-satunya varian hantavirus dengan bukti terbatas kemampuan menular antar manusia. Tidak seperti varian Sin Nombre atau Seoul yang hanya bergantung pada inang tikus, Andes diduga bisa melompat dari satu manusia ke manusia lain.
Kapal MV Hondius bertolak dari Ushuaia, Argentina — kota gerbang ke Patagonia.
Rute kapal tidak pernah melewati wilayah endemik hantavirus versi klasik. Tapi Ushuaia berada tepat di bibir wilayah endemik Andes. Jika seorang penumpang atau awak tanpa gejala membawa virus ini dari daratan, kapal yang tertutup selama berminggu-minggu menjadi laboratorium sempurna untuk menyaksikan penularan rantai manusia.
“Dua kasus hantavirus telah dikonfirmasi WHO,” demikian pernyataan badan kesehatan dunia. Tiga orang meninggal: sepasang suami istri Belanda dan seorang warga Jerman. Seorang warga Inggris, 69 tahun, masih terbaring di ICU Afrika Selatan.
WHO juga menyelidiki lima kasus dugaan lainnya di kapal yang sama.
Miscovich tidak berspekulasi tanpa dasar. Dalam wawancara dengan media, ia menegaskan bahwa jika bukti penularan antarmanusia ditemukan di kapal ini, konsekuensinya akan “mengubah masa depan kedokteran perjalanan dan penyakit menular, serta kedokteran tropis.”
Saat ini, 149 orang masih terdampar di atas kapal yang berlabuh di lepas pantai Praia, Tanjung Verde. Mereka tidak diizinkan turun. Presiden Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Tanjung Verde, Maria da Luz Lima, menyatakan kebijakan itu diambil untuk melindungi penduduk setempat. “Kapal akan melanjutkan perjalanannya,” katanya.
Skenario penularan antarmanusia bukan sekadar kecemasan akademik. Hantavirus sudah dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi. Sekitar 38 persen penderita yang mengalami gejala pernapasan meninggal. Tidak ada obat khusus. Pasien dengan gagal napas akut hanya bisa diintubasi dan diberi dukungan hidup.
Gejalanya pun licin: demam, kelelahan, nyeri otot — mirip flu biasa. Baru pada tahap lanjut muncul batuk, sesak napas, dan rasa sesak di dada yang menandakan paru-paru mulai tergenang cairan.
Yang membuat kasus ini lain dari biasanya adalah lokasi. Hantavirus selama ini lebih sering menyerang di daerah pedesaan atau kawasan dengan populasi tikus tinggi. Di Amerika Serikat, sejak pengawasan dimulai tahun 1993 hingga akhir 2023, tercatat 890 kasus — angka yang terbilang langka untuk ukuran epidemi.
Tapi kapal pesiar mewah bukan habitat alami tikus. Bukan pula zona karantina penyakit tropis.
Justru karena itulah, setiap temuan penularan antarmanusia di MV Hondius akan menjadi lonceng peringatan global. Kedokteran perjalanan harus menulis ulang protokol. Deteksi dini di atas kapal, karantina yang lebih ketat, hingga kemungkinan vaksin — semua akan berubah jika tikus tidak lagi menjadi satu-satunya yang harus disalahkan.
Kapal ini awalnya berlayar untuk kemewahan: mengunjungi Antartika, melihat paus dan lumba-lumba, berfoto dengan penguin di pulau-pulau terpencil. Rute yang diimpikan banyak wisatawan kaya dunia. Sekarang, kapal yang sama menjadi pusat penyelidikan yang bisa mendefinisikan ulang bagaimana dunia memandang satu virus.
MV Hondريس masih terapung di lepas pantai Afrika. Otoritas kesehatan Tanjung Verde menolak kedatangannya. 149 orang di dalamnya menunggu nasib sambil WHO memeriksa sampel demi sampel.
Jika jawabannya positif untuk penularan antar manusia, maka wabah ini tidak hanya merenggut tiga nyawa. Ia juga merenggut kepastian lama bahwa hantavirus adalah penyakit “dari tikus ke manusia” — dan membuka babak baru yang belum pernah ditulis dalam buku teks kedokteran.












