BarataNews.id, Jakarta — Kapal pangkalan laut ekspedisi AS, USS Miguel Keith, terdeteksi bergerak menuju Selat Malaka setelah bertolak dari Sasebo, Jepang, pada awal April 2026, berdasarkan citra satelit terbaru sebagaimana dilaporkan CNN.
Pergerakan kapal itu bersamaan dengan pernyataan resmi Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine yang mengumumkan perluasan operasi blokade maritim Amerika Serikat hingga ke wilayah Indo-Pasifik. Operasi itu menyasar kapal-kapal berafiliasi Iran, termasuk di sepanjang Selat Malaka yang berbatasan langsung dengan Indonesia.
Sebelum menyisir jalur Selat Malaka pada Kamis malam, USS Miguel Keith sempat berhenti di perairan Singapura. Berdasarkan data Korps Marinir AS, kapal ini memiliki kemampuan mendukung misi penanggulangan ranjau udara hingga operasi khusus.
Selat Malaka dan titik labuh jangkar di sekitar wilayah Indo-Pasifik dikenal sebagai salah satu konsentrasi terbesar tanker “dark fleet” — kapal-kapal pengangkut minyak Iran yang beroperasi di luar jaringan pelacakan resmi.
Jenderal Dan Caine, dikutip Caliber, menegaskan operasi pencegatan AS telah merambah wilayah Indo-Pasifik. “Kami juga melakukan tindakan dan aktivitas intersepsi maritim serupa di wilayah tanggung jawab Pasifik terhadap kapal-kapal yang meninggalkan area tersebut sebelum kami memulai blokade,” kata Caine.
Charlie Brown, penasihat senior di United Against Nuclear Iran, menyebut preseden operasi serupa di Samudra Hindia saat memprediksi pola yang akan diulang AS. “AS sebelumnya mencegat tanker-tanker yang dikenai sanksi jauh dari wilayah terdekat Venezuela, termasuk di Samudra Hindia,” kata Brown.
“Di situlah saya mengharapkan aktivitas serupa: di perairan internasional di mana AS memiliki kebebasan operasional untuk bermanuver dan lebih sedikit kendala,” tambahnya.












