BarataNews.id, Jakarta — Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah, dan penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran memutus jalur pasokan bahan baku vital itu — termasuk untuk industri nikel dan baterai kendaraan listrik dalam negeri.
“Lebih dari 75% impor belerang Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis Shanghai Metal Market (SMM).
Sulfur bukan satu-satunya komoditas yang tersendat. Setidaknya tujuh komoditas strategis global terdampak dari penutupan efektif selat tersebut, berdasarkan laporan Congressional Research Service (CRS), Schroders, CBU Group, SMM, dan sejumlah lembaga riset lainnya.
Minyak Bumi dan Gas Alam
Minyak mentah dan produk turunannya menjadi komoditas paling sensitif terhadap gangguan di Selat Hormuz. Tidak ada jalur perdagangan alternatif dengan kapasitas yang setara, sehingga setiap gangguan langsung memicu lonjakan “premi geopolitik” dalam penetapan harga.
“Besarnya dampak harga yang terjadi, serta konsekuensinya terhadap inflasi dan kondisi ekonomi yang lebih luas,” papar CRS.
Gas alam ikut terdampak meski secara historis lebih bersifat komoditas regional. Sekitar 25% ekspor gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz, terutama dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), dengan sebagian besar ekspor Qatar menuju pasar Asia termasuk China sebesar 24%.
“Sejak 2016, masuknya Amerika Serikat sebagai eksportir LNG dari wilayah 48 negara bagian daratan telah mengubah cara LNG dibeli, dijual, dan ditetapkan harganya di seluruh dunia,” tulis CRS.
QatarEnergy, perusahaan negara eksportir dan produsen LNG terbesar dunia yang memasok sekitar 20% ekspor LNG global, telah mendeklarasikan keadaan kahar atau force majeure.
Helium dan Pupuk
Qatar menyumbang 30% kapasitas produksi helium global, dan gangguan pasokan kini membayangi komoditas yang vital bagi produksi semikonduktor ini. Helium dikirim dalam wadah khusus bertekanan dan berinsulasi yang menjaga suhu minus 452 derajat Fahrenheit hingga selama 45 hari.
Pupuk kimia berbasis nitrogen dan fosfor turut terguncang. Laporan Schroders menyebut setidaknya 33% perdagangan pupuk urea global melewati jalur Hormuz, dengan Iran, Arab Saudi, Qatar, UEA, dan Bahrain secara bersama-sama menyumbang lebih dari sepertiga pasokan urea dunia.
“Gangguan terhadap pasokan pupuk, dan kenaikan harga pupuk yang menyertainya, dapat mendorong petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, yang berpotensi menurunkan produksi pangan global,” lanjut laporan CRS.
Aluminium
Sejak pecahnya konflik Iran pada 28 Februari 2026, kontrak berjangka aluminium tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga 10% pada 12 Maret, sebelum menyusut ke sekitar 8%. Sekitar sepersepuluh produksi aluminium global terkonsentrasi di Teluk Persia.
Drone dan rudal Iran menyerang pabrik yang dioperasikan Aluminium Bahrain BSC dan Emirates Global Aluminium PJSC, meski kedua perusahaan belum mengklarifikasi kerusakan pasti pada fasilitas mereka. Bahrain sendiri memangkas produksi sekitar 19% dari total kapasitas tahun, berdasarkan laporan lembaga riset CBU Group.
Analis Bernard Dadhah dari Natixis SA memperingatkan bahwa jika pabrik Al-Taweelah milik Emirates Global Aluminium berkapasitas 1,6 juta ton per tahun dihapus dari perhitungan, pasar bisa berbalik dari surplus 200.000 ton menjadi defisit sekitar 1,3 juta ton — dan bisa lebih parah jika pabrik Bahrain turut mengalami kerusakan jangka panjang.
LPG dan Krisis Energi India
LPG mengambil porsi sekitar 20% perdagangan global melalui Selat Hormuz, dan India menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampaknya. Negara itu mengimpor sekitar dua pertiga pasokan LPG-nya, dengan 90% bersumber dari Timur Tengah melalui jalur yang kini efektif terblokir sejak awal perang.
India mengambil langkah tak biasa: membeli LPG dari Iran untuk pertama kali dalam hampir delapan tahun. Indian Oil membeli kargo sekitar 43.000 ton butana dan propana, menurut data perusahaan intelijen Kpler — terakhir kali pembelian serupa dilakukan pada Juni 2018. Pengiriman dibagi bersama Bharat Petroleum Corp Ltd. dan Hindustan Petroleum Corp Ltd.
Kelangkaan yang terjadi memaksa sebagian warga India memasak dengan kayu bakar, dan memicu perkelahian dalam antrean tabung LPG.
Sulfur dan Rantai Pasokan Nikel Indonesia
Sekitar 50% pasokan sulfur dunia atau sekitar 20 juta ton per tahun berasal dari Teluk Persia, dengan Arab Saudi menjadi pemasok terbesar ke Indonesia sebanyak sekitar 1,76 juta ton pada 2025, diikuti Qatar 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia 146.000 ton, dan Singapura 115.000 ton.
SMM memperingatkan Indonesia akan bersaing dengan pembeli global untuk memperebutkan pasokan sulfur dari luar Timur Tengah yang jumlahnya terbatas, sementara kenaikan premi asuransi dan biaya pengiriman akibat pengalihan rute akan mendongkrak total biaya logistik. Sulfur digunakan dalam smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) untuk memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) — bahan baku baterai kendaraan listrik — dengan kebutuhan sekitar 11,7 ton sulfur per ton MHP yang dihasilkan.












