InternasionalBeritaPolitik

Trump Tegaskan Tak Akan Gunakan Senjata Nuklir dalam Perang Iran

×

Trump Tegaskan Tak Akan Gunakan Senjata Nuklir dalam Perang Iran

Sebarkan artikel ini
Trump menyebut militer AS mampu melumpuhkan tambahan persenjataan Iran dalam 'sekitar satu hari' setelah gencatan senjata dua minggu.

BarataNews.id, Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam perang melawan Iran. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran global bahwa konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2025 itu dapat berujung pada penggunaan senjata pemusnah massal.

“Mengapa saya harus menggunakan senjata nuklir? Kami telah sepenuhnya, dengan cara yang sangat konvensional, menghancurkan mereka tanpa itu,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis (23/4/2026).

Trump kemudian menegaskan kembali posisinya dengan lebih keras. “Tidak, saya tidak akan menggunakannya. Senjata nuklir seharusnya tidak pernah diizinkan untuk digunakan oleh siapa pun,” tambahnya, sebagaimana dilansir Reuters.

Menurut Trump, kekuatan militer konvensional AS sudah cukup untuk melumpuhkan Iran secara signifikan. Ia merinci kerusakan yang diderita Teheran.

“Angkatan laut mereka sudah tidak ada. Angkatan udara mereka sudah tidak ada, pertahanan anti-udara mereka sudah tidak ada … mungkin mereka sedikit menambah persenjataan selama jeda dua minggu itu, tetapi kami akan melumpuhkan itu dalam waktu sekitar satu hari, jika mereka melakukannya,” ujarnya.

Negosiasi Damai dan Gencatan Senjata

Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran dimulai pada 7 April 2026. Trump kemudian memperpanjangnya tanpa batas waktu pada 21 April 2026. Saat ditanya berapa lama ia bersedia menunggu tercapainya kesepakatan damai jangka panjang, Trump menjawab singkat.

“Jangan mendesak saya,” katanya.

Ia menegaskan menginginkan kesepakatan yang langgeng. “Saya ingin membuat kesepakatan terbaik. Saya bisa membuat kesepakatan sekarang juga… tetapi saya tidak ingin melakukannya. Saya ingin kesepakatan ini berlaku selamanya,” kata Trump.

Trump juga menyebut Iran sedang dalam kekacauan internal. Ia mengeklaim faksi-faksi di Teheran saling berselisih soal siapa yang memegang kendali setelah serangan besar-besaran AS. Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah klaim tersebut.

Ancaman Nuklir Sebelumnya dan Rumor Kode Nuklir

Pernyataan ini menandai perubahan tajam dari sikap Trump sebelumnya. Pada 7 April 2026, ia sempat mengeluarkan ancaman genosida terhadap Iran: “whole civilization will die tonight, never to be brought back.” Namun, dalam hitungan jam ia menyetujui gencatan senjata.

Wakil Presiden JD Vance juga pernah memperingatkan bahwa AS siap menimbulkan kerusakan tambahan dengan “senjata yang belum pernah digunakan sebelumnya.” Gedung Putih membantah pernyataan itu merujuk pada senjata nuklir.

Belakangan beredar rumor bahwa Trump sempat mencoba menggunakan kode nuklir saat rapat darurat Gedung Putih pada 18 April 2026. Juru bicara Gedung Putih membantah klaim tersebut. Rumor ini bermula dari pernyataan mantan perwira CIA Larry Johnson dalam podcast “Judging Freedom” pada 20 April.

Johnson mengeklaim terjadi adu mulut sengit di mana Jenderal Dan Caine menolak perintah Trump yang melibatkan kode nuklir. Tidak ada konfirmasi independen yang memverifikasi klaim ini.

Blokade Selat Hormuz

Trump juga menyinggung situasi di Selat Hormuz. Ia mengeklaim AS memegang kendali penuh atas jalur pelayaran strategis itu.

“Kami memiliki kendali total atas Selat Hormuz. Selat itu akan dibuka ketika kesepakatan tercapai,” ujarnya.

Trump mengakui sengaja mempertahankan penutupan selat untuk menekan Iran. Ia mengatakan Teheran kehilangan pendapatan minyak hingga 500 juta dolar AS per hari selama selat diblokade.

Sebelumnya, Trump juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk “menembak dan membunuh” setiap kapal Iran yang mencoba memasang ranjau di selat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *