EkonomiBeritaNasional

Rupiah Terancam Tembus Rp17.550 Pekan Depan, Pengamat Beberkan Sebabnya

×

Rupiah Terancam Tembus Rp17.550 Pekan Depan, Pengamat Beberkan Sebabnya

Sebarkan artikel ini
Pengamat ekonomi Ibrahim Assu’aibi memproyeksikan rupiah akan terus terperosok hingga level Rp17.550 per dolar AS pada pekan depan.

BarataNews.id, Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan semakin terperosok pada perdagangan pekan depan, dengan proyeksi menyentuh level psikologis Rp17.550 per dolar AS.

“Kemudian kalau rupiah sendiri, kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu depan itu di 17.550,” ujar Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assu’aibi, dalam pernyataannya, Minggu (3/5/2026).

Proyeksi ini mengonfirmasi tren pelemahan rupiah yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Rupiah pada perdagangan Kamis (30/4/2026) ditutup melemah di level Rp17.353 per dolar AS. Jika target Rp17.550 tercapai, itu akan menjadi level terendah rupiah sepanjang sejarah.

Ibrahim menyebut setidaknya lima faktor utama yang menjadi pemicu tekanan berkelanjutan terhadap mata uang Garuda. “50 persen itu pengaruhnya adalah dari geopolitik, tapi masih ada juga hal-hal lain. Jadi pertama adalah geopolitik, kemudian yang kedua perpolitikan di Amerika, yang ketiga adalah perang dagang, yang keempat adalah kebijakan bank sentral global, kemudian yang kelima adalah supply dan demand,” paparnya.

Konflik Timur Tengah Jadi Pendorong Utama

Faktor geopolitik menjadi penyumbang terbesar tekanan terhadap rupiah. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan AS telah memicu ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven, terutama dolar AS.

Ketegangan di kawasan tersebut berdampak langsung pada pasokan energi global melalui gangguan di Selat Hormuz, jalur maritim yang menyuplai sekitar 20-25 persen perdagangan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$126 per barel, tertinggi sejak 2022.

Kenaikan harga energi ini memicu lonjakan inflasi global dan mendorong bank sentral dunia, termasuk The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi itu semakin memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di tengah memanasnya situasi, AS justru mempercepat aksi militernya. Pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyetujui penjualan senjata senilai US$8,6 miliar kepada sekutu-sekutunya di Timur Tengah, termasuk Israel, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Sinyal Perang Dagang Perketat Tekanan Global

Selain konflik fisik, perang dagang yang kembali memanas turut menambah ketidakpastian pasar keuangan global. Trump mengancam akan menaikkan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa menjadi 25 persen.

Langkah proteksionis ini berpotensi memicu pembalasan dari Eropa dan memperlebar ketegangan perdagangan global. Ibarat efek domino, situasi tersebut dapat memicu arus keluar modal dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia, karena investor memilih aset yang lebih aman di AS.

Di tengah badai eksternal yang bergulung, fundamental ekonomi Indonesia disebut-sebut tengah berada dalam kondisi yang rapuh. Ibrahim Assu’aibi menyoroti berbagai tantangan domestik yang memperparah pelemahan rupiah, termasuk tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal dinilai meningkatkan persepsi risiko investor. Apalagi di saat yang sama, pemerintah dihadapkan pada kebutuhan untuk memberikan subsidi energi guna meredam dampak lonjakan harga minyak global terhadap daya beli masyarakat.

Stabilitas di Tangan BI

Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) dinilai harus mengambil langkah-langkah antisipatif yang lebih agresif untuk meredam gejolak. Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya telah menyatakan bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau diperdagangkan jauh di bawah nilai fundamentalnya.

BI terus melakukan intervensi triple track di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, efektivitas intervensi tersebut akan sangat tergantung pada seberapa cepat meredanya ketegangan geopolitik global yang menjadi akar masalah.

Para pelaku pasar kini menanti langkah konkret BI dalam beberapa hari ke depan, baik melalui operasi moneter maupun komunikasi kebijakan yang lebih tegas (hawkish), untuk mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *