EkonomiBeritaNasional

Rupiah Tembus Rp17.000, Anggota Komisi XI DPR Desak Pemerintah dan BI Perkuat Langkah Antisipatif

×

Rupiah Tembus Rp17.000, Anggota Komisi XI DPR Desak Pemerintah dan BI Perkuat Langkah Antisipatif

Sebarkan artikel ini
Habib Idrus Salim Aljufri dari Komisi XI DPR mendesak pemerintah hadir lewat kebijakan fiskal kuat seiring rupiah yang menembus Rp17.105 per dolar AS.

BarataNews.id, Jakarta — Anggota Komisi XI DPR RI Habib Idrus Salim Aljufri mendesak pemerintah dan otoritas moneter segera memperkuat langkah antisipatif menyusul nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.000 per dolar AS.

Politikus PKS itu menegaskan kondisi ini tidak boleh dipandang sebagai hal biasa.

“Stabilitas nilai tukar bukan hanya persoalan teknis moneter, tetapi juga berkaitan erat kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa, harus menjadi alarm,” kata Idrus dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Desakan ke Pemerintah

Meski mengapresiasi langkah Bank Indonesia mengintervensi pasar melalui berbagai instrumen operasi moneter, Idrus menilai upaya menjaga stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan pada bank sentral.

“Ini tidak cukup, pemerintah harus hadir melalui kebijakan fiskal yang kuat, pengendalian impor, serta penguatan sektor riil. Agar, tekanan terhadap rupiah bisa diminimalisir,” ucap Idrus.

Idrus juga menyoroti faktor eksternal berupa konflik geopolitik global dan dinamika harga komoditas yang turut memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Faktor global memang tidak bisa kita kendalikan, tetapi daya tahan ekonomi nasional ada di tangan kita sendiri. Penguatan industri dalam negeri, peningkatan ekspor bernilai tambah, dan pengurangan ketergantungan terhadap impor harus menjadi prioritas,” ujar Idrus.

Respons Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan menjaga stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama BI di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi.

“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki. Serta menerapkan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Destry dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (7/4/2026).

Destry menyampaikan hal itu merespons perkembangan nilai tukar yang ditutup turun signifikan 0,41 persen atau 70 poin ke level Rp17.105 per dolar AS.

“Untuk menstabilkan rupiah, BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang. Baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market,” ucap Destry.

DNDF atau Domestic Non-Deliverable Forward adalah bentuk intervensi BI ke pasar dalam negeri, sedangkan NDF atau Non-Deliverable Forward adalah intervensi BI di pasar luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *