Bagi Indonesia, dampak terparah adalah pada pasokan minyak mentah dan LPG yang mayoritas diimpor dari negara-negara Teluk seperti Qatar dan UEA. Jika suplai energi terganggu, harga BBM dan komoditas lain di dalam negeri juga akan melonjak drastis.
Langkah Strategis Diperlukan Segera
TB Hasanuddin meminta pemerintah mengambil langkah taktis dan jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari kawasan konflik. Ia mengusulkan beberapa hal penting, seperti:
- Diversifikasi energi ke sektor terbarukan
- Mempercepat pembangunan kilang minyak dalam negeri
- Menjalin kerja sama energi dengan negara non-Teluk
- Memperkuat cadangan energi nasional
“Langkah ini sangat penting untuk menghindari krisis energi jika situasi di Timur Tengah terus memburuk,” tegasnya.
Sementara itu, diplomat senior Indonesia Dian Wirengjurit menambahkan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan negara seperti Indonesia dalam menghadapi konflik sebesar ini selain bersiap dan berhemat.
“Kalau Selat Hormuz ditutup, tidak ada yang bisa menghindari dampaknya. Yang bisa dilakukan hanyalah memperkuat ketahanan energi dalam negeri dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk,” kata Dian.












