EkonomiBeritaNasional

Prabowo Minta Kampus Riset Teknologi Alternatif Pengganti LPG

×

Prabowo Minta Kampus Riset Teknologi Alternatif Pengganti LPG

Sebarkan artikel ini
Hingga Februari 2026, impor LPG nasional mencapai 83,97 persen dari total kebutuhan dengan mayoritas pasokan berasal dari Amerika Serikat.

BarataNews.id, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi dan universitas di Indonesia untuk melakukan riset teknologi alternatif pengganti liquefied petroleum gas. Arahan ini disampaikan menyusul lonjakan harga LPG dan tingginya ketergantungan pada impor.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan hal itu usai rapat terbatas dengan Presiden dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan, Senin (27/4/2026).

“Kita membantu Pak Menteri ESDM [Bahlil] untuk terkait teknologi-teknologi. LPG ini kita sangat tinggi ketergantungan pada impor, harga juga naik. Sehingga tadi kampus diminta cari sumber-sumber lain, ada beberapa sumber yang sangat potensial. Nanti semuanya akan kita lakukan penelitiannya membantu,” ujar Brian kepada awak media.

Ia tidak merinci sumber alternatif yang dimaksud, namun menegaskan bahwa pemerintah akan mendorong penelitian secara menyeluruh. Langkah ini menjadi bagian dari upaya meredam dampak harga energi global yang terus bergejolak.

Impor 84% Kebutuhan, Mayoritas dari AS

Data Kementerian ESDM menunjukkan impor LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 1,31 juta metrik ton. Jumlah tersebut setara dengan 83,97 persen dari total kebutuhan nasional sebesar 1,56 juta metrik ton.

Produksi LPG dalam negeri pada periode yang sama hanya tercatat sekitar 130.000 metrik ton. Setiap harinya, kebutuhan LPG nasional mencapai 26.000 metrik ton.

Sebagian besar pasokan impor berasal dari Amerika Serikat dengan porsi 68,91 persen. Di posisi kedua, Uni Emirat Arab memasok 11,83 persen dari total impor.

Arab Saudi mengikuti dengan kontribusi 7,36 persen. Adapun Qatar memasok 5,21 persen, sementara Australia dan Kuwait masing-masing menyumbang 3,81 persen dan 2,61 persen.

Ketergantungan tinggi pada impor LPG ini semakin rentan di tengah ketegangan geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi. Pemerintah pun mendorong percepatan riset agar Indonesia memiliki alternatif yang mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *