InternasionalBeritaCek FaktaPolitik

Iran Tuntut Kompensasi Perang Sebelum Buka Selat Hormuz, Drone Hantam Kuwait

×

Iran Tuntut Kompensasi Perang Sebelum Buka Selat Hormuz, Drone Hantam Kuwait

Sebarkan artikel ini
Iran syaratkan pembukaan Selat Hormuz dengan kompensasi penuh kerusakan perang, sementara drone Iran hantam fasilitas minyak dan pembangkit listrik Kuwait.

BarataNews.id, Teheran — Drone Iran menghantam sejumlah fasilitas minyak, petrokimia, dan pembangkit listrik di Kuwait, menyebabkan kerusakan yang digambarkan “parah” oleh perusahaan minyak negara Kuwait, di tengah kebuntuan diplomatik antara Teheran dan Washington yang semakin tajam.

Kementerian listrik dan air Kuwait melaporkan dua fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air laut rusak, dengan “kerusakan material yang signifikan dan penghentian dua unit pembangkit listrik.” Kementerian keuangan Kuwait menambahkan bahwa serangan drone di Kuwait City menyebabkan kerusakan “luas” pada sebuah gedung pemerintah, sementara enam orang dilaporkan terluka dalam serangan udara di kawasan permukiman.

Hormuz Hanya Dibuka dengan Syarat Kompensasi

Di tengah serangan itu, Iran menegaskan posisinya soal Selat Hormuz. Mehdi Tabatabaei, pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran Massoud Pezeshkian, menyatakan secara tertulis bahwa Hormuz hanya akan dibuka kembali “jika, dalam kerangka tatanan hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian biaya transit.”

Komando angkatan laut Garda Revolusi, pasukan elite Iran, memperkuat sikap tersebut dalam pernyataan yang dikutip media dalam negeri Iran. Hormuz “tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel,” demikian pernyataan komando angkatan laut Garda Revolusi. Iran mengklaim kendali penuh atas jalur tersebut dan berencana menerapkan sistem tarif bagi pelayaran yang melintas.

Ancaman Iran tak berhenti di Hormuz. Ali Akbar Velayati, penasihat kebijakan luar negeri bagi pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei, memperingatkan lewat Press TV bahwa jika AS dan Israel meningkatkan serangan, Selat Bab al-Mandab — pintu masuk ke Laut Merah menuju Terusan Suez di utara — juga dapat terancam.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di platform X bahwa “kejahatan perang” tidak akan menghasilkan apa-apa. Solusi satu-satunya, tulisnya, adalah “menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini,” sambil memperingatkan bahwa “langkah-langkah ceroboh” dapat membakar seluruh kawasan.

Ultimatum Trump dan Upaya Diplomatik Terakhir

Presiden AS Donald Trump pada Minggu (5/4) menulis secara keras di Truth Social soal penutupan Hormuz. Ia menetapkan tenggat waktu — untuk ketiga kalinya — pada Selasa (7/4) pukul 20.00 waktu Washington. Trump menegaskan konsekuensinya dalam wawancara dengan The Wall Street Journal.

“Jika mereka tidak melakukan apa pun hingga Selasa malam, tidak akan ada pembangkit listrik atau jembatan yang tersisa,” kata Trump kepada The Wall Street Journal.

Di saat bersamaan, portal berita AS Axios melaporkan bahwa AS, Iran, dan mediator regional tengah melakukan “upaya terakhir” merundingkan gencatan senjata 45 hari, mengutip empat sumber dari Amerika, Israel, dan kawasan tersebut — dan menyebut ini sebagai peluang terakhir untuk mencegah eskalasi dramatis. Pakistan telah menyampaikan konsep perdamaian dua tahap kepada Washington dan Teheran: gencatan senjata segera, disusul perjanjian komprehensif.

Iran mengonfirmasi telah menerima rencana Pakistan. Namun, menurut sumber kepada Reuters, Iran tidak bersedia menyetujui gencatan senjata sementara dan tidak akan membuka Hormuz untuk tujuan itu. Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan maupun ultimatum.

Serangan Meluas ke Bahrain dan UEA

Selain Kuwait, Iran juga melancarkan serangan ke negara-negara Teluk lainnya. Di Bahrain, perusahaan energi milik negara melaporkan drone Iran memicu kebakaran di sebuah tangki penyimpanan, yang kemudian berhasil dipadamkan.

Di Uni Emirat Arab, otoritas setempat melaporkan bahwa pelabuhan Khor Fakkan di pantai timur UEA, dekat pintu masuk Selat Hormuz, menjadi target serangan. Empat orang terluka akibat pecahan puing saat proyektil yang tidak teridentifikasi dicegat. Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) turut melaporkan insiden tersebut, menyebut adanya “proyektil tak dikenal” yang jatuh “di dekat” sebuah kapal kontainer yang sedang dimuat di pelabuhan.

Dalam perkembangan terpisah, Garda Revolusi melaporkan kepala divisi intelijen mereka, Majid Khadami, tewas dalam sebuah serangan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan militer telah “menyingkirkan” Khadami, yang disebutnya bertanggung jawab langsung atas serangan roket mematikan terhadap warga sipil Israel.

AS dan Israel memulai serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Sejak itu, Iran membalas dengan rudal dan drone ke Israel, sejumlah negara Teluk, dan fasilitas AS di kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *