Meski selamat, Farrell berada dalam posisi sangat berbahaya. Hanya satu pendaki lain, seorang wanita asal Perancis, yang melihat kejadiannya dan segera turun untuk mencari bantuan. Ia bertahan selama hampir enam jam di atas batu sempit, berdoa agar diselamatkan. “Saya siap menukar nyawa saya dengan luka patah tulang demi bisa hidup,” ungkapnya penuh emosi. Tim penyelamat akhirnya berhasil mengevakuasi Farrell setelah sebelumnya mengevakuasi korban lain di area serupa.
Evaluasi Keamanan Jalur Pendakian dan Refleksi Hidup
Dalam wawancara lanjutan, Farrell menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Juliana Marins dan menilai perlu adanya peningkatan sistem keselamatan di jalur pendakian Rinjani. Ia mengusulkan agar setiap kelompok pendaki memiliki minimal dua pemandu agar bisa saling melindungi. “Indonesia mungkin negara berkembang, tapi keamanan pendakian bisa ditingkatkan dengan dukungan biaya atau kebijakan yang tepat,” kata Farrell.
Meski nyaris kehilangan nyawa, Farrell mengaku ingin kembali mendaki Rinjani. Baginya, kejadian ini menjadi titik balik dalam kehidupan spiritual dan nilai-nilai hidupnya. “Saya sekarang lebih dekat dengan Tuhan dan mulai memikirkan hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup,” ucapnya menyimpulkan.












