BarataNews, Jakarta — Di tengah kebuntuan diplomasi dan perhatian dunia yang tersita oleh konflik di kawasan lain, Korea Utara justru menunjukkan lonjakan signifikan dalam kapasitas produksi senjata nuklirnya.
Berdasarkan laporan yang dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber internasional pada Selasa (15/4/2026), Pyongyang kini dinilai mampu memproduksi material untuk 10 hingga 20 senjata nuklir setiap tahunnya.
Peringatan paling tajam datang dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Dalam pernyataan resminya, Lee menyebut bahwa tetangganya di utara itu telah mencapai kapasitas industri nuklir yang mengkhawatirkan.
“Korea Utara sekarang mampu memproduksi material fisil yang cukup untuk 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun,” ungkap Lee, seraya menambahkan bahwa jika kapasitas itu berlebih, ancaman proliferasi ke aktor non-negara atau negara lain menjadi bahaya global yang nyata.
“…begitu terjadi kelebihan, itu akan menyebar ke luar negeri, melampaui batas negaranya. Bahaya global pun akan muncul,” tegasnya.
Data dan analisis yang mendasari kekhawatiran Seoul itu diperkuat oleh dua lembaga kredibel. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa kemajuan program nuklir Pyongyang telah memasuki fase yang “sangat serius”.
Grossi menyoroti peningkatan aktivitas yang pesat di kompleks nuklir utama Yongbyon, termasuk pada reaktor 5 megawatt, fasilitas pemrosesan ulang plutonium, dan reaktor air ringan yang tengah dibangun.
Di sisi lain, laporan intelijen sumber terbuka dari lembaga think-tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) melalui proyek Beyond Parallel mengungkapkan adanya penambahan fasilitas strategis baru. Fasilitas yang diduga kuat digunakan untuk pengayaan uranium di Yongbyon itu dilaporkan telah rampung dibangun dan hampir siap beroperasi.
Laporan yang sama menekankan bahwa produksi uranium yang diperkaya dari fasilitas baru tersebut “akan secara signifikan meningkatkan jumlah senjata nuklir yang dapat dimiliki Korea Utara.”
Pelanggaran Terang-terangan dan Jalan Buntu Diplomasi
Saat ini, IAEA memperkirakan Korea Utara telah memiliki stok beberapa puluh hulu ledak nuklir, dengan estimasi jumlah mencapai sekitar 50 buah. Indikasi keberadaan fasilitas pengayaan uranium lain di Kangson, dekat Pyongyang, yang tidak pernah dilaporkan ke otoritas internasional turut menambah panjang daftar kekhawatiran.
Rafael Grossi dengan tegas menyebut seluruh rangkaian aktivitas nuklir Korea Utara tersebut sebagai sebuah pelanggaran yang nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Pelanggaran yang jelas,” ujar Grossi merujuk pada pembangkangan Pyongyang terhadap pakta internasional.
Meskipun Korea Utara tidak melakukan uji coba nuklir sejak 2017, pengembangan teknologi rudal balistik antarbenua (ICBM) terus berlanjut.
Situasi ini semakin pelik mengingat upaya diplomasi tingkat tinggi antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump pada periode pertama pemerintahan Trump berakhir tanpa kesepakatan denuklirisasi. Terkini, segala ajakan dialog lintas perbatasan yang diajukan oleh pemerintahan Lee Jae Myung juga mentah ditolak oleh Pyongyang.












