BarataNews.id, Washington DC — Di tengah sorak kemenangan dari Gedung Putih atas gencatan senjata bersyarat dengan Iran, sejumlah analis dan anggota Kongres AS justru melihat gambaran yang berbeda: Trump terpojok, bukan menang.
Negosiasi antara AS dan Iran dijadwalkan dimulai pada Jumat (10/04) di Islamabad, Pakistan, dengan alokasi waktu dua minggu yang dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama, sebagaimana diumumkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC). Iran sendiri menyebut langkah AS sebagai “kekalahan bersejarah dan telak”, dengan klaim bahwa Washington terpaksa menerima rencana 10 poin Teheran sebagai dasar pembicaraan.
Trump, di sisi lain, tetap memperingatkan bahwa proposal 10 poin Iran “tidak cukup baik dalam bentuknya saat ini” dan akan memerintahkan serangan udara baru yang menghancurkan jika tidak ada kesepakatan akhir sebelum batas waktu baru.
Alan Eyre, peneliti diplomatik di Middle East Institute yang berbasis di Washington DC, menilai Trump kemungkinan besar “sangat ketakutan” atas dampak ekonomi perang dan kendali Iran atas Selat Hormuz. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Eyre menyebut Trump harus “menyatakan kemenangan dan menghentikan perang”.
Eyre juga mengingatkan bahwa gencatan senjata membutuhkan waktu untuk berlaku dan serangan, khususnya oleh Israel terhadap Lebanon, kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa jam ke depan. Ia menyebut Israel memiliki “tujuan strategis mereka sendiri yang belum mereka penuhi” di Lebanon, meski menilai Israel kemungkinan akan berhenti setelah Trump meminta Netanyahu untuk melakukannya.
Ancaman Pemakzulan
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, memperbarui seruannya agar Trump dimakzulkan dalam unggahan di X, menyatakan bahwa pengumuman gencatan senjata “tidak mengubah apa pun”. Ocasio-Cortez menuduh Trump “mengancam genosida terhadap rakyat Iran”.
“Presiden harus dicopot dari jabatannya. Kita sedang bermain di ambang kehancuran,” tulis Ocasio-Cortez.
Puluhan anggota parlemen Demokrat lainnya sebelumnya telah menyerukan hal yang sama karena ancaman Trump terhadap Iran, dan sebagian menyatakan posisi mereka tidak berubah setelah pengumuman gencatan senjata.
Trita Parsi dari Quincy Institute mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perang AS-Israel yang lebih luas dengan Iran akan “menghancurkan kepresidenan Trump”. Ia menilai Trump sebenarnya tidak memiliki pilihan yang baik di meja perundingan.
“Dia perlu keluar dari situasi ini. Dia membuat ancaman tadi pagi untuk memberi kesan bahwa kesepakatan yang akan dia capai malam ini dilakukan sesuai persyaratannya,” kata Parsi. “Tetapi ketika Anda benar-benar melihatnya, tampaknya tidak demikian. Bahkan pernyataannya sendiri mengatakan bahwa negosiasi akan didasarkan pada rencana 10 poin Iran, yang merupakan rencana yang jauh lebih masuk akal,” lanjut Parsi.
Parsi juga menyebut bahwa jika AS menyerang sumber daya energi Iran, Iran akan membalas terhadap negara-negara Teluk dan memicu krisis energi yang jauh lebih parah.
Versi Gedung Putih
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut gencatan senjata sebagai kemenangan yang “diwujudkan” Trump dan militer Amerika. Leavitt menyatakan Trump sejak awal memperkirakan perang berlangsung empat hingga enam minggu, dan dalam 38 hari AS telah mencapai serta melampaui seluruh tujuan militer inti.
“Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal, memungkinkan Presiden Trump dan tim untuk terlibat dalam negosiasi sulit yang kini telah menciptakan peluang untuk solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang,” tulis Leavitt dalam pernyataan resminya.
Pernyataan Leavitt muncul setelah SNSC Iran justru mengklaim sebaliknya — bahwa gencatan senjata disetujui Teheran karena “hampir semua tujuan perang telah tercapai” di pihak Iran.
Harga minyak merosot setelah pengumuman gencatan senjata. Menurut Reuters, minyak mentah berjangka AS turun sekitar 16% menjadi US$94,59 per barel, sementara Brent berjangka turun sekitar 15% menjadi US$92,35 per barel. Di Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 5% dan indeks Kospi Korea Selatan naik 6% hingga memicu penghentian perdagangan sementara.
Namun Alex Holmes dari Economist Intelligence Unit mengingatkan bahwa pasar belum bisa terlalu yakin gencatan akan bertahan. “Akan ada kesenjangan besar yang harus dijembatani dalam negosiasi sehingga pasar masih dalam mode menunggu dan melihat,” kata Holmes kepada Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa meskipun harga sudah bergerak, minyak masih diperdagangkan jauh lebih tinggi dibanding akhir Februari.












