Internasional

Defisit Pasokan Minyak Global Tembus 12,3 Juta Barel per Hari, Krisis Energi Mengancam dalam Hitungan Pekan

×

Defisit Pasokan Minyak Global Tembus 12,3 Juta Barel per Hari, Krisis Energi Mengancam dalam Hitungan Pekan

Sebarkan artikel ini
Laporan The Economist mengungkap defisit 12,3 juta barel per hari akibat blokade Selat Hormuz, melampaui seluruh krisis minyak sebelumnya.

BarataNews.id, Jakarta — Dunia kehilangan lebih dari 10% pasokan minyak harian menyusul penutupan Selat Hormuz yang kini memasuki bulan ketiga. Defisit bersih mencapai 12,3 juta barel per hari, menjadikannya gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Selat Hormuz yang biasanya mengalirkan hampir seperlima kebutuhan minyak dunia kini nyaris tidak dilewati satu pun kapal tanker komersial. Penutupan terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026, yang dibalas Teheran dengan menargetkan kapal-kapal niaga di jalur strategis tersebut.

Upaya diplomasi untuk membuka kembali selat berlangsung terputus-putus dan belum membuahkan hasil. Meskipun resolusi lewat negosiasi masih dimungkinkan, ada skenario bahwa Selat Hormuz tetap tertutup tanpa batas waktu.

Para pelaku pasar energi sebelumnya mengabaikan kemungkinan blokade. Asumsi lama menyebutkan bahwa menutup selat hanya akan memicu permusuhan dengan negara-negara Teluk, memutus pasokan bagi pelanggan Iran di Asia, dan melumpuhkan jalur ekonomi Iran sendiri.

Namun dua bulan setelah perang dimulai, realitas berkata sebaliknya. Harga minyak mentah Brent kini bertengger di atas US120perbarel,masihdibawahproyeksiUS120perbarel,masihdibawahproyeksiUS150-200 yang sempat beredar pada Maret lalu.

Ketenangan di permukaan pasar menyembunyikan perhitungan yang menakutkan. Selama Maret dan April tahun sebelumnya, sebanyak 18,3 juta barel per hari minyak mentah dan produk olahan keluar dari Selat Hormuz.

Dengan memperhitungkan aliran yang masih tersisa dan tambahan dari dua jalur pipa—masing-masing di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi—defisit bersih menyempit menjadi sekitar 13 juta barel per hari. Angka itu bertambah setelah memasukkan pertumbuhan pasokan 2 juta barel per hari di luar kawasan Teluk dan mengurangi 1,3 juta barel per hari produksi tambahan yang sebelumnya diharapkan pasar dari negara-negara Teluk. Defisit bersih selama dua bulan terakhir: 12,3 juta barel per hari.

Sebagai perbandingan, ketika negara-negara Barat menghentikan pembelian minyak Rusia pada 2022 pasca-invasi Ukraina, volume yang hilang hanya 3 juta barel per hari atau sekitar 3% dari pasokan global—dan sebagian besar dialihkan ke Asia. Kini, hampir lima kali lipat volume tersebut lenyap total dari pasokan global setiap harinya.

“Bahkan jika selat dibuka kembali besok, sekitar 3% dari produksi tahunan dunia mungkin telah hilang,” demikian laporan The Economist yang dikutip CNBC Indonesia Research, Sabtu (2/5/2026).

Tiga Jalur Penyeimbangan yang Mulai Runtuh

Secara teori, pasar minyak memiliki tiga mekanisme untuk mencapai keseimbangan: mengaktifkan kapasitas produksi berlebih, menguras stok, dan menaikkan harga untuk menekan permintaan. Namun opsi pertama langsung terhambat oleh penutupan selat itu sendiri.

Kapasitas berlebih Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama ini menjadi penyangga utama pasar minyak global terhalang blokade. Produsen minyak serpih Amerika Serikat yang biasanya paling cepat merespons lonjakan harga membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk meningkatkan produksi dan hanya mampu menambah 300.000 hingga 700.000 barel per hari pada tahap awal.

Infrastruktur ekspor AS sendiri sudah mencapai batas maksimalnya. “Kita bahkan tidak bisa memasukkan satu kapal pun lagi,” kata seorang pedagang, dikutip dari The Economist, Sabtu (2/5/2026).

Rusia secara teoritis dapat memompa tambahan 300.000 barel per hari. Namun infrastruktur minyaknya terus-menerus diserang drone Ukraina sehingga negara itu kesulitan mempertahankan produksi saat ini.

Dengan mandeknya opsi peningkatan produksi, hampir seluruh penyesuaian harus berasal dari konsumsi stok atau penghancuran permintaan. Keduanya tidak mudah diukur secara akurat.

Stok produk olahan seperti bensin, solar, dan bahan bakar jet tersebar di antara jutaan pemasok dan konsumen sehingga nyaris mustahil dilacak. Sementara permintaan biasanya disimpulkan dari data produksi, perdagangan, dan penyimpanan alih-alih diukur langsung.

Meski demikian, kenaikan harga dan kelangkaan nyata telah membatasi konsumsi secara signifikan. Selisih harga antara minyak mentah dan produk jadi seperti diesel serta bahan bakar jet melonjak ke US50−80perbarel,darisebelumnyaUS50−80perbarel,darisebelumnyaUS15-20 sebelum perang. Larangan ekspor dari China memperparah situasi.

Di Singapura, pusat perdagangan energi Asia, harga kedua bahan bakar itu kini dua kali lipat dibandingkan dua bulan lalu. Di Eropa, harganya bahkan lebih mahal. Harga bensin di SPBU melonjak tajam: berlipat ganda di Myanmar, naik 52% di Pakistan, 50% di Filipina, dan 40% di Nepal.

Para pengamat yang diwawancarai The Economist memperkirakan permintaan minyak mentah dan produk minyak bumi berada 3 juta hingga 5 juta barel per hari di bawah proyeksi April 2026. Sekitar 10-15% dari penurunan itu berasal dari Timur Tengah, tempat perang menghantam aktivitas ekonomi dan lalu lintas penerbangan turun hingga dua pertiga.

Lebih dari setengah penurunan permintaan terjadi di Asia. Industri petrokimia terpukul paling parah karena nafta—bahan baku plastik yang hampir seluruhnya dipasok dari Teluk—mengalami kelangkaan akut. Pabrik-pabrik di Asia beroperasi pada kapasitas 60-75%, dan beberapa telah tutup total.

Afrika Timur yang sangat bergantung pada diesel, bensin, dan minyak tanah dari Teluk serta Eropa Timur menanggung sebagian besar penurunan permintaan yang tersisa. Jika penurunan permintaan mencapai 4 juta barel per hari selama dua bulan terakhir, dunia telah menguras stok hingga 8 juta barel per hari.

Cadangan Menipis, Dunia Menuju Titik Kritis

Sejumlah penyangga sempat menahan laju krisis. Volume minyak yang hampir mencapai rekor sudah berada di laut sebelum perang pecah. Produsen Teluk yang mendengar genderang konflik telah meningkatkan ekspor beberapa minggu sebelumnya. Minyak Iran dan Rusia yang sempat terperangkap di kapal tanker akibat sanksi Barat ikut dilepas ke pasar.

Morgan Stanley memperkirakan “penyangga terapung” ini telah menyediakan lebih dari 3 juta barel per hari sejak awal Maret. Namun cadangan itu tidak dapat bertahan lama. Produk olahan di laut kini jauh lebih sedikit dari biasanya.

Intervensi besar-besaran juga datang dari negara-negara kaya. Pada 11 Maret 2026, sebanyak 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat—penarikan terkoordinasi terbesar dalam sejarah lembaga itu, setara sepertiga dari total cadangan seluruh anggotanya.

Sekitar 100 juta barel telah mencapai pasar dan 75 juta barel lainnya diperkirakan menyusul pada Mei dan Juni 2026. Namun keputusan Maret itu diambil ketika sebagian besar pemerintah negara anggota IEA masih meyakini Selat Hormuz akan kembali terbuka dalam beberapa pekan. Kini, dengan kemungkinan gangguan tanpa batas waktu, mereka enggan menguras cadangan lebih cepat.

Kekurangan yang tersisa—mendekati 5 juta barel per hari—dipenuhi dari stok komersial. Frédéric Lasserre dari Gunvor, perusahaan perdagangan komoditas global, memperkirakan produk olahan menyumbang sekitar setengah dari jumlah itu pada April 2026.

“Itu adalah jumlah yang sangat besar, bahkan ketika permintaan minyak melonjak pada puncak pemulihan pasca-Covid pada 2021-2022, penarikan stok minyak mentah dan produk olahan tidak pernah melebihi 2,5 juta barel per hari selama lebih dari sebulan,” kata Lasserre, dilansir The Economist.

Jika Selat Hormuz tetap tertutup dan volume di laut serta pelepasan cadangan strategis terus menyusut, persediaan komersial harus menyediakan 6 juta hingga 8 juta barel per hari. Tidak ada pihak yang menilai laju sebesar itu berkelanjutan.

Lasserre memperkirakan kekurangan akan terjadi dalam 4 hingga 8 pekan di sebagian besar wilayah. Artinya, harga akan segera naik lebih tinggi lagi untuk menyelaraskan permintaan dengan pasokan. Sinyal kepanikan sudah mulai terlihat: beberapa kargo diesel dilaporkan dijual seharga US600perbarel,melonjakdariUS600perbarel,melonjakdariUS300 seminggu sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *