BarataNews.id, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026) dan jatuh ke level 5.400-an di tengah meningkatnya sentimen negatif pasar global serta kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Data RTI menunjukkan IHSG dibuka melemah 182,44 poin atau 3,26 persen ke level 5.412,32 pada pukul 09.05 WIB. Indeks sempat bergerak di rentang 5.370,32 hingga 5.490,11 setelah dibuka pada posisi 5.486,11.
Tekanan pasar terlihat semakin besar ketika saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo atau big banks ikut terkoreksi. Pelemahan sektor ini menjadi sorotan karena saham perbankan memiliki bobot besar terhadap pergerakan IHSG sehingga penurunannya langsung memberi dampak signifikan terhadap indeks.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang paling tertekan setelah turun hingga 4 persen ke level Rp 4.800 per saham. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga melemah 1,33 persen ke posisi Rp 4.440, turun Rp 70 dibanding harga sebelumnya di level Rp 4.510.
Koreksi turut terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang turun 0,80 persen menjadi Rp 3.740 per saham. Padahal pada awal perdagangan, BBNI sempat menguat ke level Rp 3.800.
Aksi Jual Besar Warnai Awal Perdagangan
Tekanan terhadap pasar disebut terjadi sangat cepat. Dalam sekitar 10 menit setelah pembukaan perdagangan, pelaku pasar melakukan aksi jual besar-besaran yang mempercepat pelemahan sejumlah saham unggulan.
Fenomena tersebut memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan di tengah sentimen global yang belum stabil. Eskalasi geopolitik internasional dan meningkatnya kecenderungan investor global mengurangi aset berisiko ikut memperbesar tekanan di pasar saham domestik.
Selain faktor eksternal, pasar juga dibayangi sentimen sell Indonesia yang belakangan ramai diperbincangkan investor. Sentimen itu merujuk pada kecenderungan sebagian investor asing melakukan aksi jual setelah mencermati perkembangan ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.
Kondisi tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Situasi ini mendorong investor global lebih selektif menempatkan dana pada aset berisiko di emerging market.
Pemerintah Sebut Fundamental Ekonomi Masih Kuat
Menanggapi sentimen negatif di pasar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta investor melihat kondisi ekonomi Indonesia secara lebih menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
“Jadi, teman-teman investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa. Yang bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan presiden,” kata Purbaya.
Pemerintah menilai fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi baik meski pasar keuangan tengah menghadapi tekanan eksternal dan tingginya volatilitas global.
Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan pemerintah dan otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas pasar, terutama setelah tekanan terhadap IHSG dan nilai tukar rupiah terus berlanjut dalam beberapa waktu terakhir.












